JAKARTA (India News Desk) — India resmi memasuki fase baru dalam sistem imigrasinya, menandai pergeseran besar menuju digitalisasi penuh. Mulai 1 April 2026, seluruh wisatawan asing yang tiba melalui bandara internasional diwajibkan mengisi kartu kedatangan digital atau e-arrival card sebelum masuk ke negara tersebut. Kebijakan ini sekaligus mengakhiri penggunaan formulir kertas yang selama ini menjadi prosedur standar di bandara.
Perubahan ini tidak terjadi secara instan. Sejak Oktober 2025, India telah menerapkan sistem ganda dengan mengizinkan penggunaan formulir fisik dan digital secara bersamaan guna memudahkan proses transisi. Kini, masa peralihan tersebut telah berakhir, dan sistem digital menjadi satu-satunya jalur resmi.
Bagi wisatawan Indonesia, aturan baru ini membawa perubahan penting dalam persiapan perjalanan. Perencanaan tidak lagi dimulai di bandara, melainkan jauh sebelum hari keberangkatan.
Langkah Baru Sebelum Berangkat
Dalam aturan terbaru, wisatawan dari Indonesia wajib mengisi e-arrival card maksimal 72 jam sebelum jadwal kedatangan di India. Proses ini mengharuskan pengisian data yang cukup lengkap, mulai dari identitas pribadi, detail paspor, informasi kontak, hingga rincian penerbangan dan tujuan kunjungan.
Setelah formulir dikirim, wisatawan akan menerima kode QR yang nantinya dipindai saat proses imigrasi. Sistem ini memungkinkan petugas mengakses data secara langsung tanpa perlu input manual, sehingga proses pemeriksaan menjadi lebih cepat.
Meski dirancang sederhana, kelalaian dalam mengisi formulir dapat berdampak pada waktu tunggu di bandara. Wisatawan yang belum mengisi sebelumnya kemungkinan harus melakukannya di lokasi, yang berpotensi menambah antrian dan memperlambat proses masuk.
Bagi wisatawan Indonesia yang sering bepergian dalam rombongan atau dengan jadwal padat, hal ini bisa menjadi faktor yang cukup krusial.
Kartu Kedatangan Digital Bukan Pengganti Visa
Masih banyak yang mengira e-arrival card menggantikan visa. Padahal, keduanya memiliki fungsi yang berbeda.
Visa tetap menjadi syarat utama untuk masuk ke India. Sementara itu, e-arrival card berperan sebagai alat tambahan untuk verifikasi data dan mempercepat proses imigrasi.
Dengan pengumpulan data sejak awal, otoritas India dapat memproses kedatangan lebih efisien, mengidentifikasi potensi risiko lebih cepat, serta mengurangi kepadatan di titik pemeriksaan. Sistem ini pada dasarnya menjadi lapisan kedua dalam pengawasan perbatasan.
Sejalan dengan Tren Regional
Langkah India ini mencerminkan tren yang lebih luas di Asia, khususnya Asia Tenggara. Negara seperti Singapura dan Malaysia telah lebih dulu menerapkan sistem serupa dan terbukti mampu mengurangi antrian serta meningkatkan efisiensi layanan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal penting. Sebagai salah satu destinasi wisata utama di kawasan, kebutuhan akan digitalisasi layanan imigrasi semakin mendesak agar tetap kompetitif.
Keberhasilan India dalam menerapkan sistem digital secara penuh, meskipun memiliki volume wisatawan yang sangat besar, berpotensi mendorong negara lain untuk mengikuti langkah serupa.
Mobilitas India–Indonesia Terus Meningkat
Penerapan e-arrival card juga terjadi di tengah meningkatnya mobilitas antara Indonesia dan India. Perjalanan untuk keperluan wisata religi, bisnis, hingga pendidikan terus menunjukkan tren positif.
Dengan sistem baru ini, pengalaman masuk ke India diperkirakan menjadi lebih terstruktur dan efisien, terutama bagi wisatawan yang sudah terbiasa dengan layanan digital.
Namun, tantangan tetap ada. Tidak semua wisatawan familiar dengan teknologi digital, khususnya kelompok usia tertentu atau mereka yang jarang bepergian ke luar negeri. Oleh karena itu, sosialisasi dan pendampingan menjadi kunci keberhasilan implementasi kebijakan ini.
Maskapai dan agen perjalanan pun mulai beradaptasi dengan mengingatkan penumpang untuk mengisi formulir sebelum keberangkatan. Bahkan, dalam beberapa kasus, verifikasi e-arrival card mulai menjadi bagian dari proses check-in.
Menuju Standar Global
Pada akhirnya, kebijakan kartu kedatangan digital ini mencerminkan arah baru dalam industri perjalanan global. Efisiensi, kecepatan, dan minim kontak fisik menjadi prioritas utama pascapandemi.
Dengan langkah ini, India berupaya menyelaraskan diri dengan standar global yang semakin mengedepankan teknologi. Mengingat jumlah wisatawan internasional yang terus meningkat setiap tahun, sistem manual memang tidak lagi memadai.
Bagi wisatawan Indonesia, perubahan ini bukanlah hambatan, melainkan bentuk penyesuaian. Dengan persiapan yang tepat, proses masuk ke India justru dapat menjadi lebih cepat, praktis, dan efisien dibanding sebelumnya.
Author: Rafi Fadhilah
