BHUBANESWAR (India News Desk) — Di perbukitan Dhauli, sekitar delapan kilometer dari pusat Kota Bhubaneswar, berdiri sebuah prasasti batu yang menjadi penanda salah satu titik balik terpenting dalam sejarah India kuno. Ashokan Rock Edict bukan sekadar peninggalan arkeologis, tetapi simbol perubahan moral Kaisar Ashoka setelah Perang Kalinga. Tim India News Desk berkesempatan mengunjungi prasasti batu tersebut pada awal Desember 2025 lalu.
Dhauli menghadap langsung ke dataran luas dan aliran Sungai Daya. Lebih dari dua ribu tahun lalu, wilayah inilah yang menjadi medan pertempuran sengit antara pasukan Maurya dan Kalinga. Catatan sejarah menyebutkan puluhan ribu orang tewas atau ditawan, bahkan Sungai Daya dikisahkan memerah oleh darah korban. Peristiwa ini mengguncang batin Ashoka, penguasa besar Dinasti Maurya pada abad ke-3 SM.
Sebagai penanda perubahan sikapnya, Ashoka memerintahkan pembuatan prasasti yang dipahat langsung pada batu besar di Dhauli. Di atasnya terdapat pahatan kepala gajah yang seolah muncul dari batu, sering dimaknai sebagai simbol kebangkitan spiritual. Isi prasasti, yang ditulis dalam aksara Brahmi, tidak memuliakan kemenangan perang, melainkan menekankan Dhamma: ajaran moral tentang welas asih, toleransi, keadilan, dan tanggung jawab penguasa terhadap rakyat.
Prasasti ini merupakan bagian dari jaringan titah batu Ashoka yang tersebar di berbagai wilayah India. Pada abad ke-19, aksara Brahmi berhasil diuraikan kembali oleh para sarjana, membuka pemahaman baru tentang pemerintahan dan gagasan etis Ashoka.
Kini, kawasan Dhauli terasa tenang dan reflektif. Di tengah modernitas Bhubaneswar, batu prasasti itu tetap berdiri sebagai pengingat bahwa dari tragedi perang lahir salah satu pesan perdamaian paling awal dalam sejarah politik dunia.





