BHUBANESWAR (India News Desk) — Di bagian barat kota Bhubaneswar, berdiri dua bukit batu yang menjadi saksi bisu sejarah panjang India kuno: Udayagiri Caves dan Khandagiri Caves. Berjarak sekitar tujuh kilometer dari pusat kota, kompleks gua ini bukan sekadar destinasi wisata, melainkan monumen arkeologis penting yang merekam perkembangan agama Jain, seni pahat, dan politik India pada abad sebelum Masehi.
Warisan Abad ke-2 Sebelum Masehi

Udayagiri berarti “Bukit Matahari Terbit”, sementara Khandagiri berarti “Bukit Terbelah”. Kedua bukit ini dulunya merupakan bagian dari kawasan yang dikenal sebagai Kumari Parvata. Pada abad ke-2 sebelum Masehi, gua-gua tersebut dipahat sebagai tempat tinggal dan meditasi para pertapa Jain.
Pembangunan kompleks ini dikaitkan erat dengan pemerintahan Raja Kharavela dari Dinasti Mahameghavahana, penguasa Kalinga kuno. Namanya tercatat dalam prasasti terkenal di Gua Hathi atau Hathigumpha, yang menjadi salah satu sumber sejarah utama mengenai politik dan ekspansi Kalinga pada masa itu. Prasasti tersebut ditulis dalam aksara Brahmi dan memuat informasi tentang kebijakan, pembangunan publik, hingga kegiatan keagamaan sang raja.
Secara keseluruhan terdapat 33 gua yang masih tersisa hingga kini, dengan 18 gua di Udayagiri dan 15 di Khandagiri. Struktur gua umumnya sederhana, berupa ruang-ruang kecil dengan langit-langit rendah, dirancang untuk kehidupan asketik yang bersahaja.
Rani Gumpha dan Relief Kerajaan

Di antara seluruh gua, Rani Gumpha di Udayagiri adalah yang paling megah. Gua bertingkat dua ini menampilkan relief pahatan yang menggambarkan adegan kerajaan, prosesi, penari, hewan, serta motif dekoratif. Keberadaan relief tersebut menunjukkan bahwa selain fungsi religius, gua-gua ini juga memiliki dimensi artistik yang kuat.
Hathi Gumpha menjadi titik penting lainnya karena memuat prasasti Kharavela yang panjang dan detail. Sementara itu, Ganesh Gumpha dan Bagha Gumpha menampilkan pahatan figur hewan di bagian pintu masuk, termasuk bentuk menyerupai gajah dan harimau.
Di sisi lain, gua-gua di Khandagiri memperlihatkan pahatan simbol-simbol Jain, termasuk figur Tirthankara. Beberapa gua seperti Tatowa Gumpha dan Ananta Gumpha menyajikan ornamen yang lebih dekoratif, meskipun ukurannya relatif lebih kecil dibandingkan kompleks utama di Udayagiri.
Arsitektur dan Spiritualitas

Secara arsitektural, gua-gua ini menunjukkan teknik pemahatan batu yang presisi untuk masanya. Ruang-ruang dibuat mengikuti kontur alami bukit, dengan teras kecil di bagian depan sebagai tempat berkumpul atau meditasi. Tidak ditemukan kemewahan berlebihan, yang mencerminkan prinsip hidup sederhana dalam ajaran Jain.
Keberadaan kompleks ini menegaskan bahwa wilayah Kalinga, yang kini menjadi bagian dari negara bagian Odisha, telah menjadi pusat kegiatan keagamaan dan intelektual jauh sebelum periode klasik India berkembang.
Pengalaman Berkunjung

Mengunjungi Udayagiri dan Khandagiri memberikan pengalaman berjalan kaki menyusuri lorong-lorong batu yang telah berusia lebih dari dua milenium. Dari puncak bukit, pengunjung dapat melihat lanskap kota Bhubaneswar yang kini dikenal sebagai “Kota Kuil” karena banyaknya kuil kuno di sekitarnya.
Situs ini dikelola sebagai kawasan warisan budaya dan menjadi salah satu destinasi utama di Odisha bagi wisatawan domestik maupun mancanegara yang tertarik pada sejarah dan arkeologi.
Menyentuh Masa Lalu di Odisha
Udayagiri dan Khandagiri bukan hanya rangkaian gua tua, melainkan arsip batu yang menyimpan narasi tentang kekuasaan, keyakinan, dan kreativitas manusia pada masa India kuno. Di tengah modernitas Bhubaneswar, dua bukit ini tetap berdiri sebagai pengingat bahwa peradaban besar pernah tumbuh dari kesederhanaan ruang-ruang sunyi di dalam batu.
Author: Rafi Fadhilah
