Jakarta (India News Desk) — Gelombang panas ekstrem kembali melanda India dengan suhu yang mendekati 47 derajat Celsius di sejumlah wilayah, memicu peringatan luas dari otoritas meteorologi serta langkah darurat di sektor kesehatan dan pendidikan.
“Akola di negara bagian Maharashtra, mencatat suhu panas tertinggi di negara ini dengan 46,9° Celcius, sementara Nagpur dan beberapa bagian lain di Vidarbha dilanda gelombang panas yang parah,” kata pejabat India Meteorological Department pada Senin, 29 April 2026.
Kondisi ini menempatkan wilayah Vidarbha sebagai episentrum panas ekstrem. Selain Akola, Amravati mencatat suhu 46,8°C, diikuti Wardha dengan 46,4°C, Yavatmal 46°C, Nagpur 45,4°C, serta Chandrapur 45°C. Seluruh wilayah tersebut dilaporkan mengalami gelombang panas dengan intensitas tinggi.
Menurut ilmuwan regional, Dr. Praveen Kumar, fenomena ini dipicu oleh kondisi atmosfer yang tidak mendukung penurunan suhu. “Suhu di atas normal dan terus-menerus tinggi di Vidarbha dapat dikaitkan dengan sirkulasi antisiklon di Maharashtra dan daerah sekitarnya,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa angin barat laut yang panas dan kering, serta lemahnya gangguan cuaca dan minimnya kelembapan, memperparah situasi.
Otoritas meteorologi memperingatkan bahwa suhu maksimum masih berpotensi mencapai 45 hingga 46 derajat Celsius, bahkan menyentuh 47 derajat Celsius di beberapa lokasi terpencil.
Peringatan Cuaca Ditingkatkan di Sejumlah Wilayah
Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, India Meteorological Department mengeluarkan peringatan berjenjang. Status “oranye” diberlakukan di wilayah Akola, Amravati, dan Wardha, sementara Nagpur, Chandrapur, dan Yavatmal berada dalam status “kuning”.
Sistem peringatan ini menunjukkan tingkat risiko yang harus diantisipasi masyarakat. Dalam klasifikasi resmi, hijau berarti normal, kuning menunjukkan kewaspadaan, oranye menandakan perlunya kesiapsiagaan, dan merah mengindikasikan kondisi darurat yang membutuhkan tindakan segera.
Meski demikian, otoritas memperkirakan gelombang panas akan mulai mereda dalam beberapa hari ke depan. Penurunan suhu sekitar 2 hingga 3 derajat Celsius diperkirakan terjadi, disertai kemungkinan hujan dan angin kencang di beberapa wilayah.
Dampak Meluas hingga Ibu Kota
Gelombang panas tidak hanya terbatas di Maharashtra. Di Rajasthan bagian barat, distrik Jaisalmer dan Barmer mencatat suhu hingga 46,4°C. Sementara itu, wilayah timur seperti Jharsuguda di Odisha mencapai 44,8°C dan Sonepur 43,7°C.
Ibu kota New Delhi juga terdampak dengan suhu mencapai 42,8°C, menjadikannya salah satu kota terpanas di kawasan Asia Selatan dalam beberapa hari terakhir.
Kondisi ini mendorong pemerintah pusat dan daerah meningkatkan kesiapsiagaan, terutama dalam menghadapi potensi dampak kesehatan yang luas.
Ancaman Heatstroke, Masyarakat Diminta Waspada
Otoritas kesehatan memperingatkan bahwa suhu ekstrem meningkatkan risiko heatstroke, dehidrasi, dan kelelahan akibat panas, terutama bagi kelompok rentan.
“Kami meminta masyarakat untuk mengurangi paparan langsung sinar matahari dan memperbanyak konsumsi air. Gelombang panas kali ini berpotensi menyebabkan heatstroke jika tidak diantisipasi,” ujar juru bicara India Meteorological Department dalam pernyataan resmi.
Masyarakat juga diimbau untuk menghindari aktivitas luar ruangan pada jam kritis antara pukul 12.00 hingga 16.00, ketika suhu berada pada puncaknya.
Sekolah Ditutup, Rumah Sakit Tingkatkan Kapasitas
Sebagai langkah mitigasi, sejumlah sekolah dasar di wilayah terdampak ditutup sementara atau mengubah jam operasional untuk melindungi siswa dari paparan panas ekstrem.
Di sektor kesehatan, rumah sakit mulai meningkatkan kapasitas layanan. Pemerintah membuka bangsal khusus heatstroke di Rumah Sakit Ram Manohar Lohia di New Delhi untuk menangani pasien dengan gejala dehidrasi dan kelelahan akibat panas.
“Kami menambah kapasitas ruang perawatan dan tenaga medis untuk menghadapi lonjakan kasus heatstroke. Fokus kami adalah pencegahan dan penanganan cepat,” kata seorang pejabat kesehatan di Delhi.
Langkah-langkah ini mencerminkan eskalasi respons pemerintah dalam menghadapi salah satu gelombang panas paling intens tahun ini, sekaligus menjadi pengingat akan meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem di kawasan Asia Selatan.
Dengan suhu yang masih tinggi dan risiko kesehatan yang belum sepenuhnya mereda, otoritas terus meminta masyarakat untuk tetap waspada dan mengikuti arahan resmi guna meminimalkan dampak lebih lanjut.
Author: Rafi Fadhilah
