Jakarta (India News Desk) — CEO Indonesia Economic Forum, Sachin V. Gopalan, menjadi pembicara dalam Webinar Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Batch 11 Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) yang mengangkat tema Democratizing Commerce Through Open Digital Networks. Dalam forum ini, ia menyoroti pentingnya transformasi menuju sistem perdagangan digital yang lebih terbuka, inklusif, dan berkelanjutan.
Sachin menilai bahwa ekosistem digital saat ini masih didominasi oleh model platform tertutup yang menciptakan ketimpangan akses dan peluang, baik bagi pelaku usaha maupun konsumen.
“Digital commerce dunia kita sekarang platform centric. Hanya yang besar yang bisa menang, yang lainnya pasti mati,” ujarnya.
Menurutnya, dominasi platform besar telah menciptakan struktur pasar yang cenderung mengarah pada monopoli atau duopoli, di mana hanya segelintir pemain yang menguasai akses pasar digital.
UICI Dorong Teknologi Menjangkau Seluruh Lapisan Masyarakat
Dalam sambutannya, Rektor UICI Asep Saefuddin menekankan bahwa perkembangan teknologi harus mampu memberikan manfaat nyata bagi seluruh lapisan masyarakat, tidak hanya di wilayah perkotaan tetapi juga hingga ke daerah tertinggal.
Ia menyoroti masih adanya kesenjangan dalam akses dan pemanfaatan teknologi di Indonesia, khususnya di pedesaan. Menurutnya, adopsi teknologi perlu diiringi dengan dampak ekonomi yang jelas bagi masyarakat.
“Apakah teknologi itu menyasar sampai ke pedesaan, dan apakah manfaat ekonominya benar-benar dirasakan, itu yang perlu kita jawab,” ujarnya.
Asep menambahkan bahwa jika teknologi belum mampu menjawab kebutuhan tersebut, maka diperlukan pendekatan baru yang lebih tepat guna dan inklusif.
“Kalau belum menyasar dan belum memberi manfaat, maka kita harus mencari model yang lebih tepat untuk masyarakat,” lanjutnya.
Ia juga menegaskan komitmen UICI melalui visi Reaching the Unreachable, yakni memperluas akses pendidikan dan teknologi hingga ke wilayah yang sulit dijangkau, termasuk daerah 3T.
Ekosistem Platform Tertutup Dinilai Tidak Sehat
Dalam paparannya, Sachin menjelaskan bahwa sistem platform tertutup membatasi interaksi antara penjual dan pembeli hanya dalam satu ekosistem. Hal ini menyebabkan pelaku usaha harus bergantung pada satu platform untuk menjangkau pasar.
Kondisi tersebut dinilai menyulitkan pelaku usaha kecil dan menengah, terutama ketika mereka harus bersaing dengan pemain besar yang telah memiliki basis pengguna yang kuat.
“Kalau kita buka aplikasi baru, satu tahun pasti mati karena tidak bisa lawan platform besar,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menyoroti biaya komisi yang cukup tinggi dalam model platform, yang berkisar antara 15 hingga 30 persen. Beban ini pada akhirnya akan diteruskan kepada konsumen.
“Platform bisa ambil 15 sampai 30 persen. Tapi sebenarnya yang bayar itu pembeli,” katanya.
Open Digital Networks Tawarkan Sistem Lebih Adil
Sebagai solusi, Sachin memperkenalkan konsep open digital networks melalui inisiatif Indonesia Open Network (ION). Sistem ini dirancang sebagai infrastruktur digital terbuka yang memungkinkan interaksi antara penjual dan pembeli tanpa perantara platform tunggal.
Dalam model ini, transaksi dapat dilakukan tanpa biaya komisi atau dengan biaya yang sangat rendah, sehingga lebih efisien bagi seluruh pihak.
“Kalau di open network, transaction fee bisa nol. Jadi lebih murah, lebih efisien, dan lebih adil,” ungkapnya.
Selain efisiensi biaya, open network juga memberikan fleksibilitas bagi pengguna. Pembeli dapat mengakses berbagai produk dari banyak penjual dalam satu jaringan, tanpa harus berpindah aplikasi.
Di sisi lain, penjual hanya perlu mengelola satu toko digital yang dapat terhubung ke berbagai kanal distribusi dalam jaringan tersebut.
Indonesia Berpeluang Jadi Pemain Utama
Sachin menyebut bahwa konsep open network telah berhasil diterapkan di India dan kini mulai diadopsi oleh berbagai negara lain. Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu negara dengan tingkat adopsi tercepat.
“India jadi pionir, tapi Indonesia bisa jadi yang paling cepat mengadopsi,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa pengembangan Indonesia Open Network melibatkan dukungan dari pemerintah, asosiasi bisnis, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya, menjadikannya sebagai bagian dari transformasi ekonomi digital nasional.
Membuka Lapangan Kerja dan Peluang Wirausaha
Lebih jauh, Sachin menekankan bahwa open digital networks berpotensi menciptakan ekosistem ekonomi baru yang lebih luas, termasuk dalam hal penciptaan lapangan kerja.
Ia menyebut berbagai profesi baru yang akan muncul, seperti operator digital commerce, pengembang aplikasi jaringan terbuka, hingga spesialis katalog produk dan logistik.
“Lapangan kerja bisa meningkat lima kali karena banyak bisnis baru muncul di daerah,” jelasnya.
Selain itu, model ini juga membuka peluang bagi generasi muda untuk menjadi wirausaha digital tanpa harus menghadapi hambatan biaya teknologi yang tinggi.
“Dengan open network, kalian bisa jadi entrepreneur dari daerah tapi jual ke seluruh Indonesia,” katanya.
Menuju Ekonomi Digital yang Lebih Inklusif
Diskusi dalam webinar ini menegaskan bahwa masa depan perdagangan digital tidak hanya ditentukan oleh inovasi teknologi, tetapi juga oleh struktur ekosistem yang lebih adil dan terbuka.
Dengan pendekatan open digital networks, diharapkan akses terhadap ekonomi digital dapat lebih merata dan tidak lagi terpusat pada segelintir platform besar.
“Demokratisasi commerce berarti semua orang bisa ikut berpartisipasi dalam ekonomi digital,” tutup Sachin.
Author: Rafi Fadhilah
