RAJGIR (India News Desk) — Di antara perbukitan hijau Rajgir, sekitar 12 kilometer dari reruntuhan Nalanda Mahavihara, berdiri kampus baru Nalanda University yang resmi dibuka pada 2024. Kehadirannya bukan sekadar proyek pendidikan modern, melainkan bagian dari upaya panjang menghidupkan kembali warisan intelektual yang pernah menjadikan kawasan ini pusat ilmu pengetahuan dunia. Tim India News Desk mengungjungi universitas tersebut pada awal Desember 2025 lalu.
Nalanda kuno didirikan pada abad ke-5 Masehi pada masa Kekaisaran Gupta dan berkembang pesat di bawah perlindungan para penguasa berikutnya, termasuk Dinasti Pala. Selama berabad-abad, kompleks ini menjadi salah satu universitas residensial pertama di dunia. Ribuan mahasiswa dari berbagai wilayah Asia belajar filsafat, logika, kedokteran, astronomi, dan ajaran Buddha di sini. Catatan peziarah Tiongkok seperti Xuanzang menggambarkan Nalanda sebagai pusat pembelajaran kosmopolitan dengan perpustakaan besar dan perdebatan intelektual yang hidup.
Kejayaan itu berakhir pada abad ke-12 ketika kompleks ini dihancurkan dalam invasi militer. Perpustakaannya terbakar, dan aktivitas akademik terhenti. Yang tersisa kini hanyalah struktur bata merah yang sunyi, namun jejak fondasi ruang kuliah, biara, dan stupa masih memperlihatkan skala besarnya sebagai pusat ilmu pengetahuan Asia kuno.
Kampus modern Nalanda dibangun tidak jauh dari situs bersejarah tersebut, tetap di kawasan Rajgir yang sejak zaman kuno memang menjadi wilayah penting dalam tradisi intelektual dan spiritual India. Secara arsitektur, bangunannya mengambil inspirasi dari bentuk bata dan tata ruang Nalanda lama, tetapi dirancang dengan pendekatan ramah lingkungan dan terbuka. Area hijau yang luas, jalur pedestrian, kolam air, serta gedung-gedung rendah menciptakan suasana reflektif yang mengingatkan pada karakter Nalanda berabad-abad lalu.
Kini, universitas ini berfokus pada program pascasarjana dan doktoral dengan mahasiswa dari berbagai negara. Jika Nalanda kuno dikenal sebagai simpul pertukaran gagasan lintas budaya Asia, kampus barunya berupaya menghidupkan kembali semangat itu dalam konteks abad ke-21.
Di Rajgir, sejarah dan masa depan berdiri berdampingan. Reruntuhan bata merah menjadi pengingat kejayaan dan kehancuran, sementara kampus baru menjadi simbol kesinambungan nilai: keterbukaan, dialog, dan pencarian ilmu yang melampaui batas zaman.















