RAJGIR (India News Desk) — Di wilayah Bihar, tak jauh dari kota kuno Rajgir, berdiri reruntuhan bata merah yang pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan terbesar di dunia kuno: Nalanda Mahavihara. Dari sinilah gagasan, filsafat, dan ilmu pengetahuan menyebar ke berbagai penjuru Asia selama berabad-abad.
Didirikan pada abad ke-5 Masehi pada masa Dinasti Gupta, Nalanda berkembang menjadi universitas residensial yang terorganisasi dengan sangat maju. Selama lebih dari 700 tahun, tempat ini menarik ribuan pelajar dari India, Tiongkok, Tibet, Korea, hingga Asia Tenggara. Pada puncak kejayaannya, Nalanda diyakini menampung lebih dari 10.000 mahasiswa dan sekitar 2.000 guru.
Nalanda bukan sekadar pusat studi Buddhisme. Di sini diajarkan logika, kedokteran, matematika, astronomi, tata bahasa, hingga metafisika. Sistem seleksinya pun ketat, dengan ujian lisan di gerbang masuk untuk menyaring calon mahasiswa.
Catatan biksu Tiongkok Xuanzang dan Yijing menjadi sumber penting yang menggambarkan kehidupan akademik Nalanda yang disiplin dan kosmopolit. Salah satu kebanggaan terbesarnya adalah kompleks perpustakaan Dharmaganja, yang menyimpan ribuan manuskrip. Ketika Nalanda dihancurkan pada akhir abad ke-12, perpustakaannya disebut terbakar selama berbulan-bulan karena begitu banyaknya naskah yang tersimpan.
Kini, sisa delapan vihara, stupa besar, dan deretan sel para bhiksu masih dapat ditelusuri. Suasana sunyi di antara bangunan bata yang tertata rapi menghadirkan bayangan masa ketika tempat ini menjadi jantung intelektual Asia.
Pada 2016, Nalanda ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, menegaskan perannya sebagai simbol pertukaran ilmu pengetahuan lintas budaya pada masa lampau. Reruntuhan ini bukan sekadar peninggalan arkeologis, melainkan saksi sejarah tentang bagaimana pendidikan pernah menjadi fondasi peradaban dunia.













