JAKARTA, 31 Januari 2025 – Maruti Suzuki India Ltd. menargetkan untuk menjadi produsen mobil listrik terbesar di India dalam tahun pertama produksinya. Meski begitu, hal itu mustahil tanpa ekspor dan penjualan ke Toyota Motor Co.
“Satu keuntungan besar yang membantu kita meraih tonggak sejarah ini akan menjadi volume ekspor yang digabungkan ke 100 negara, termasuk Jepang dan Eropa dan penjualan ke OEM lainnya (produsen peralatan asli),” kata Direktur Eksekutif (Urusan Perusahaan) Maruti Suzuki, Rahul Bharti.
eVitara akan juga akan diubah namanya menjadi Toyota secara global sebagai bagian dari aliansi Toyota-Suzuki yang dibentuk pada 2017 untuk berkolaborasi dalam produksi kendaraan listrik.
Sebagaimana diketahui, Maruti Suzuki di India merupakan anak perusahaan Suzuki Motor Corp. satu-satunya yang memproduksi eVitara untuk seluruh dunia. Produksi mobil listrik pertama di perusahaan itu akan dimulai di Suzuki Motor Gujarat pada Februari mendatang. SUV berukuran sedang ini diharapkan dapat dijual di Eropa, Jepang dan India pada Juni.
“Ini selalu menjadi strategi kita untuk mengkonsentrasikan produksi di satu lokasi dan memanfaatkan skala ekonomi dan kekuatan manufaktur India yang ditawarkan India,” kata Bharti.
Oleh karena itu, dari rencana ini, jumlah ekspor Maruti akan memuncak di waktu yang tepat. Pada Oktober-Desember 2024 lalu, pembuat mobil terbesar di India ini mengirim 99.220 unit ke luar negeri, di mana angka tersebut merupakan yang tertinggi sepanjang masa. Pangsa pasarnya dalam total ekspor mobil India mencapai 49%, dimana menariknya lagi angka ini lebih tinggi daripada dalam pasar domestik.
Dalam sembilan bulan hingga Desember, perusahaan itu mengekspor 1.21.286 unit dibandingkan dengan 1.47.915 unit pada periode yang sama tahun lalu. Fokus ekspor ini juga merupakan lindung nilai terhadap industri mobil listrik yang masih baru.
Kurang dari satu lakh mobil listrik dijual di India pada 2024, meskipun dengan tingkat pertumbuhan 20 persen per tahunnya, menurut data industri. Mobil listrik hanya melingkupi 2,4 persen dari industri otomotif ketiga terbesar di dunia. Tata Motors merupakan produsen mobil listrik terbesar dengan pangsa pasar sebesar 60 persen. Dari hal ini, Maruti Suzuki percaya diri akan tekadnya dalam menciptakan terobosan di bidang ini.
“Kekuatan terbesar eVitara adalah sebuah kendaraan listrik yang dibuat dari bawah ke atas,” tutur Bharti.
“Ini bukan SUV pembakaran internal yang dikonversi,” lanjutnya.
Dengan panjang 4.275 mm, lebar 1.800 mm dan tinggi 1.635 mm, eVitara sedikit lebih kecil ketimbag Grand Vitara dengan standar spesifikasi khusus untuk India. Mobil itu dibangun di atas platform ‘HEARTECT-e’ yang membentuk dasar dari beberapa mobil Suzuki seperti Swift.
eVitara akan ditawarkan dengan dua powertrain, yakni 142 bhp dengan baterai 49 kWh dan 172 bhp dengan baterai 61 kWh dengan motor yang dipasang di bagian depan. Angka torsinya sama, yakni 140 NM. Jarak tempuh yang diklaim akan mencapai 500 km dengan sekali pengisian daya.
Maruti mendukung overdrive listriknya dengan membangun infrastruktur untuk itu. Perusahaan ini telah meluncurkan inisiatif yang disebut ‘e For Me’ yang terdiri dari pemasangan pengisi daya di rumah untuk pelanggan eVitara dan stasiun pengisian daya cepat di dealer. Idenya adalah untuk memiliki titik pengisian daya Maruti Suzuki setiap 5-10 km di 100 kota teratas.
“Ini akan memberikan kepercayaan diri kepada pelanggan,” tegas Bharti.
Harganya pun juga dihitung dari awal untuk satu unit kendaraan listrik. Dari total belanja modal yang direncanakan sebesar Rs 10.000 crore untuk tahun fiskal 2025, Maruti Suzuki telah menginvestasikan lebih dari Rs 2.100 crore untuk penelitian dan pengembangan dan produksi eVitara.
Sebuah jalur perakitan EV sedang dirancang di Suzuki Motor Gujarat yang pada akhirnya akan memiliki kapasitas tahunan sebesar 2,5 lakh unit. Tingkat pelokalannya rendah. Baterainya masih diimpor. Pembelanjaan modal, tentu saja, akan mengurangi margin.
“Kita harus mengakui bahwa EV akan memiliki margin yang lebih rendah daripada ICE,” ujar Bharti. “Jika marginnya sama, mengapa pemerintah harus memberikan begitu banyak insentif?”
“Tentu saja, ada tekanan untuk bertahan hidup, itulah sebabnya pemerintah juga melakukan intervensi. Namun, hal tersebut merupakan sesuatu yang harus kita sikapi dengan tenang dan menyeimbangkan kepentingan semua pemangku kepentingan. Itulah tugas yang harus kami lakukan.”
