Jakarta – Indonesia telah menetapkan target ambisius untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29-41% pada tahun 2030 dan mencapai netralitas karbon pada tahun 2060. Sebagai bagian dari komitmennya terhadap perubahan iklim, Indonesia juga berencana untuk menonaktifkan pembangkit listrik tenaga batu bara pada tahun 2050 dan membatalkan sejumlah proyek batu bara yang sedang dalam tahap pengembangan. Di sisi lain, India, dengan ekonomi yang terus berkembang pesat, juga tengah mengevaluasi kebijakan energi bersih dan kendaraan listrik (EV) yang berperan besar dalam revolusi energi global.
Indonesia dan India, yang bersama-sama mewakili sekitar 40% dari total populasi dunia, memainkan peran penting dalam menggerakkan transisi energi bersih secara global. Indonesia, meskipun memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap pembangkit listrik tenaga batu bara masih berupaya keras untuk mengejar target ambisius tersebut dengan mengalihkan sumber energi dari batu bara ke energi terbarukan. Hal ini sejalan dengan kebijakan India, yang baru-baru ini mendirikan Clean Energy International Incubation Centre untuk mendukung startup dalam mengembangkan solusi energi bersih.
Namun, tantangan yang dihadapi kedua negara sangat besar. Di Indonesia, penetrasi kendaraan listrik masih rendah, hanya sekitar 0,2%, meskipun Jakarta menjadi pusat utama adopsi EV. Indonesia memiliki peluang besar untuk memanfaatkan potensi energi terbarukan dan kendaraan listrik dalam mendukung transisi energi bersih yang lebih cepat. Di sisi lain, India, dengan kota seperti Bangalore yang memiliki GDP per kapita lebih tinggi daripada rata-rata nasional India, berencana memiliki 2,3 juta kendaraan listrik pada 2030, sebuah angka yang jauh melampaui Indonesia saat ini.
Meskipun ada perbedaan tingkat adopsi teknologi bersih antara kedua negara, hubungan keduanya membuka peluang besar untuk kerja sama dalam berbagai sektor, termasuk teknologi energi terbarukan dan kendaraan listrik. Dengan saling berbagi pengalaman dan teknologi, Indonesia dan India memiliki potensi untuk mempercepat transisi menuju ekonomi rendah karbon yang lebih berkelanjutan.
