JAKARTA (India News Desk) — Bharat Indonesia Cultural and Economic Forum atau BICEF resmi menggelar Inaugural Dialogue Session bertajuk The Emerging Global Scenario: How Indonesia and India are Growing Amid Uncertainties di Gama Tower, Jakarta, Rabu (25/2/2026). Forum ini menjadi ruang dialog strategis untuk membahas bagaimana Indonesia dan India dapat memperkuat sinergi di tengah dinamika geopolitik dan ekonomi global.
Membangun Platform People to People

Acara dibuka oleh Finance Advisor & Arranger BICEF, Shiv Dave, yang menegaskan bahwa forum ini lahir untuk memperkuat hubungan antarmasyarakat kedua negara.
“Hari ini menandai awal dari sebuah platform yang kami harapkan menjadi ruang dialog yang bermakna dan berkelanjutan antara India dan Indonesia di tingkat people to people,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa BICEF bukanlah platform politik, melainkan ruang untuk membangun pemahaman bersama. Di tengah restrukturisasi rantai pasok global, disrupsi teknologi seperti kecerdasan artifisial, serta tantangan perubahan iklim, menurutnya Indonesia dan India tetap menunjukkan ketahanan.
“Kedua negara memiliki kekuatan struktural yang serupa, populasi muda, kelas menengah yang berkembang, posisi geografis strategis, dan konsumsi domestik yang kuat,” kata Shiv.
Ubah Resiliensi Jadi Kolaborasi Nyata

Mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Sandiaga Salahuddin Uno, menekankan pentingnya mengubah ketahanan ekonomi menjadi kolaborasi konkret.
“Saya meyakini hubungan Indonesia dan India, bukan hanya di bidang ekonomi tetapi juga pertukaran budaya, dapat memberikan manfaat besar bagi hampir dua miliar penduduk di kedua negara,” ujarnya.
Ia menilai kedua negara sebagai pemimpin pertumbuhan di Asia dengan ekonomi yang tetap tumbuh di atas lima persen. Namun, bonus demografi harus dibarengi peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Yang terpenting bukan hanya usia yang muda, tetapi bagaimana keterampilan berbasis inovasi dapat meningkatkan produktivitas dan membuka peluang kerja yang lebih luas,” tegasnya.
Sandiaga juga menyoroti peluang kerja sama di sektor digital, usaha mikro kecil dan menengah, energi terbarukan, dan transisi hijau.
“Mari kita memasuki era kolaborasi antara Indonesia dan India, bukan kompetisi, melalui investasi silang, inovasi bersama, dan penciptaan nilai bersama,” katanya.
Indonesia dan India Harus Memimpin Kawasan

Tokoh publik India sekaligus Presiden India Foundation, Ram Madhav, menempatkan diskusi dalam konteks perubahan tatanan global.
“Kita hidup di masa transisi besar. Tatanan lama telah berakhir, sementara tatanan baru belum sepenuhnya lahir,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Indonesia dan India sebagai dua kekuatan besar di kawasan Samudra Hindia memiliki tanggung jawab strategis.
“Kawasan ini adalah milik kita. Kita harus menjadi penentu arah kawasan ini. Tanpa perdamaian dan stabilitas, tidak akan ada ekonomi dan tidak akan ada perdagangan,” tegasnya.
Ram Madhav juga mendorong Indonesia untuk tampil lebih percaya diri di panggung global.
“Indonesia adalah negara besar, namun seringkali belum menunjukkan peran sebesar potensi yang dimiliki. Bersama India, kita bisa menjadi kekuatan besar yang berpengaruh di dunia,” katanya.
Kerja Sama Pragmatik dan Peran BRICS

Ketua Komite Tetap BRICS KADIN Indonesia, Didit Ratam, menyoroti pentingnya pendekatan pragmatis dalam kerja sama bilateral maupun multilateral.
“Indonesia dan India memiliki banyak kesamaan. Yang paling penting, hubungan budaya kita telah terjalin lebih dari dua ribu tahun,” ujarnya.
Ia menyebut perdagangan bilateral telah mencapai sekitar 30 miliar dolar AS dan menilai ketahanan sebagai kunci menghadapi ketidakpastian global.
“Dalam situasi geopolitik yang dinamis, kita membutuhkan ketahanan. Kerja sama harus bersifat pragmatis. Lakukan hal hal yang memang bisa kita capai,” katanya.
Didit menyoroti peluang kerja sama di sektor ketahanan pangan, energi, kesehatan, serta riset dan inovasi.
“Hanya melalui dialog kita bisa mengambil langkah pertama untuk memperkuat hubungan yang memberi manfaat nyata bagi rakyat kedua negara,” tambahnya.
Saatnya Menyusun Agenda Sendiri

Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, menutup diskusi dengan menegaskan pentingnya pilar hubungan antar masyarakat.
“Sering kali kita fokus pada pilar politik dan ekonomi. Padahal pilar terpenting adalah hubungan people to people,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa hubungan Indonesia dan India telah terjalin selama lebih dari dua milenium dengan pertukaran budaya yang saling memperkaya.
“Kisah Indonesia dan India mungkin tidak selalu menjadi berita utama, tetapi kemitraan kita tumbuh secara mendalam dan berkelanjutan,” katanya.
Lebih jauh, ia menekankan perlunya kepemimpinan bersama di kawasan.
“Indonesia dan India tidak seharusnya hanya mengikuti agenda yang ditetapkan pihak lain. Sudah saatnya dua pemimpin Global South ini menyusun agenda bersama untuk diikuti dunia,” tegasnya.
Momentum Awal Kolaborasi Berkelanjutan

Peluncuran BICEF menjadi momentum awal untuk memperkuat jembatan dialog budaya dan ekonomi antara Indonesia dan India. Di tengah ketidakpastian global, kolaborasi dua negara demokrasi besar ini diharapkan mampu menjadi motor pertumbuhan sekaligus penopang stabilitas kawasan.
Author: Rafi Fadhilah
