NEW DELHI (India News Desk) — Perjalanan menuju Mehrauli terasa seperti perpindahan perlahan dari Delhi modern ke masa yang jauh lebih tua. Lalu lintas mulai berkurang, pepohonan semakin rapat, dan dinding batu muncul di balik pagar besi. Qutub Minar berdiri tenang di dalam kompleksnya, tidak mendominasi, tetapi hadir dengan keyakinan yang sunyi. Tim India News Desk berkesempatan mengunjugi monumen tersebut pada awal bulan Desember 2025.
Waktu terbaik berkunjung adalah pagi hari. Udara lebih sejuk, pengunjung belum terlalu ramai, dan cahaya matahari membuat batu pasir merah terlihat hangat dan hidup.
Menara Penanda Sejarah

Qutub Minar bukan sekadar monumen. Ia menandai awal babak baru dalam sejarah India. Dibangun pada awal abad ke 13, menara ini melambangkan berdirinya Delhi sebagai pusat kekuasaan Islam. Dengan tinggi hampir 73 meter, Qutub Minar masih menjadi salah satu menara bata tertinggi di dunia.
Dari bagian bawah, bangunannya terasa kokoh sekaligus anggun. Setiap tingkat memiliki detail ukiran dan kaligrafi yang berbeda, membuat pengunjung terdorong untuk memperhatikan detail, bukan hanya mengambil foto.
Reruntuhan yang Bercerita Pelan

Di sekitar menara terbentang Kompleks Qutub, kumpulan bangunan tua yang tidak menyembunyikan usianya. Masjid Quwwat ul Islam kini berdiri sebagai fragmen, dengan pilar yang dulunya berasal dari kuil Hindu dan Jain. Ukiran bunga lotus dan motif geometris masih terlihat jelas, memperlihatkan percampuran budaya yang unik.
Tak jauh dari situ, Tiang Besi menarik perhatian. Selama lebih dari seribu tahun berdiri di ruang terbuka, tiang ini hampir tidak berkarat, menjadi salah satu teka teki sejarah Delhi.
Ruang untuk Merenung

Keistimewaan Qutub Minar bukan hanya pada nilai sejarahnya, tetapi juga suasananya. Area kompleks terasa luas dan lapang. Keluarga duduk di rerumputan, pelajar menggambar bangunan, dan pelancong solo membaca penjelasan sambil memandang ke atas.
Tidak ada dorongan untuk terburu buru. Tempat ini mengajak pengunjung berjalan perlahan, berhenti, dan berpikir. Rasanya lebih seperti ruang ingatan bersama daripada objek wisata biasa.
Pulang dengan Rasa Skala

Saat meninggalkan kompleks, hiruk pikuk Delhi kembali menyambut. Kendaraan, pedagang, dan kebisingan mengambil alih. Namun bayangan Qutub Minar tetap tertinggal di pikiran, mengingatkan bahwa kota ini dibangun di atas lapisan sejarah yang dalam.
Mengunjungi Qutub Minar bukan hanya tentang melihat bangunan terkenal. Ini tentang memahami bagaimana waktu, kekuasaan, seni, dan keyakinan bertemu dalam bentuk batu.
Author: Rafi Fadhilah
