JAKARTA, 21 Januari 2025 – Pesawat terbang listrik yang dikembangkan oleh perusahaan rintisan (start-up) The ePlane Company telah menerima sertifikasi tipe dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (DCGA/Dirjen Perhubungan Udara) India. Berbasis di Chennai, ePlane merupakan perusahaan swasta India pertama yang mendapatkan penerimaan di bawah aturan baru untuk pesawat terbang lepas landas dan mendarat vertikal elektronik (eVTOL) yang dikeluarkan pada September lalu.
Dirjen Perhubungan Udara merilis kriteria kelaikan udara untuk jenis sertifikasi pesawat terbang lepas landas dan mendarat vertikal elektronik dan spesifikasi untuk vertiport (landasan khusus untuk pesawat berbaling-baling yang berfungsi untuk pendaratan, pengambilan penumpang, dan pengambilan muatan) yang digunakan oleh mereka.
Pendiri dan Kepala Bagian Teknis ePlane, Prof. Satya Chakravrarthy, memberitahukan bahwa perusahaan itu memiliki banyak hal utama, termasuk diterimanya hasil tes eVTOL di India, pengujian pesawat baling-baling untuk pertama kalinya di kawasan Indo-Pasifik. Perusahaan rintisan tersebut bertujuan untuk menyelesaikan uji terbang pada akhir tahun 2026.
“Kita akan membuat beberapa purwarupa dan kemudian mencatat jam terbang kumulatif untuk menunjukan kepatuhan,” ungkapnya.
Perusahaan tersebut berencana untuk menyediakan ambulans terbang, pesawat kargo, pesawat charter ke tempat turis dan taksi-taksi terbang di kota-kota besar.
“Pesawat itu cukup lapang untuk mengoperasikan ambulans terbang dengan tandu yang bisa beroda ke pesawat. Jadi ada sebuah ambulans terbang, penerbangan charter di lokasi turis, kargo terbang, di tambah dengan taksi… Kami menjaring mitra dengan rumah sakit, pembangun vertiport, menyediakan infrastruktur pengisi daya serta operator penyewaan. Perusahaan itu bekerja sama dengan pemain properti untuk gedung vertiport, bandara, penyedia logistik, namun hal ini dalam tahapan-tahapan awal” paparnya.
Perusahaan itu saat ini hanya menguji di India seiring dengan perkembangan kerangka regulasi global untuk eVTOL. “Pasar India mungkin lebih siap untuk ini. Bahkan dari ekonomi maju terutama karena infrastruktur kota kita dan volume lalu lintasnya tidak terlalu baik,” katanya.
Prof Chakravarthy juga optimis akan kelangsungan hidup bisnis tersebut dibandingkan dengan ambulans terbang tradisional, karena helikopter memiliki perawatan dan biaya bahan bakar dan menurunkan perlindungan dan penggunaan aset. “Kita akan menurunkan spiral dimana kita pada dasarnya mengatakan itu akan menjadi lebih terjangkau dalam hal yang bersedia ditanggung oleh perusahaan asuransi saat ini,” tuturnya.
Start-Up yang diinkubasi oleh IIT-M sejauh ini telah mengumpulkan 20 juta dolar dan berencana untuk dinaikkan sebesar 30 juta dolar. “Lebih banyak uang akan yang akan kita miliki, lebih banyak juga yang dapat dipasarkan. Itu tergantung bagaimana selera pasar yang berkembang untuk ini karena kita dapat menunjukkan penerbangan purwarupa pertama,” katanya.
