Coalition for Disaster Resilient Infrastructure (Koalisi untuk Infrastruktur Tahan Bencana) India menyambut delegasi media Indonesia untuk memberikan pengarahan tentang pekerjaan koalisi dan keterlibatan global yang sedang berlangsung untuk memperkuat infrastruktur tahan bencana.
Direktur Jenderal Coalition for Disaster Resilient Infrastructure, Amit Prothi, membuka pertemuan dengan diskusi mengenai kolaborasi global dalam pembangunan infrastruktur. “Bencana di Mumbai menjadi sorotan. Sebab, diperlukannya pemahaman akan pengaruh pembangunan infrastruktur,” katanya di Kantor Pusat Coalition for Disaster Resilient Infrastructure pada Rabu (29/01/2025).
Amit mengatakan dalam upaya meningkatkan ketahanan infrastruktur, sebuah perguruan tinggi global yang melibatkan 42 negara peserta telah berkolaborasi dalam proyek pembangunan infrastruktur. Menurutnya, kerja sama ini mencakup pengawasan internasional dan kontribusi keuangan dari berbagai negara.
“Dengan pendekatan ini, negara-negara dapat saling berbagi keahlian dan sumber daya untuk menciptakan solusi yang lebih efektif dan efisien. Salah satu contoh penting adalah partisipasi militer Indonesia dalam parade militer Hari Republik India, yang menjadi simbol kuat dari kolaborasi internasional dalam bidang pertahanan dan infrastruktur,” tambahnya.
Pendekatan ini tentunya memiliki sejumlah langkah, dana yang digelontorkan hingga komitmen agar kolaborasi ini tetap berjalan sebagaimana mestinya. Tata kelola global untuk memajukan infrastruktur dan mitigasi risiko ini melibatkan dewan pemerintahan internasional yang diketuai bersama oleh Sekretaris Utama Perdana Menteri India dan sebuah komite eksekutif.
Amit mengulas laporan risiko signifikan yang mendapat perhatian sesegera mungkin. “Strategi mitigasi bencana berpotensi menghemat hingga $702,8 miliar per tahun. Sebagian besar kerugian ekonomi, sebesar $50 miliar, disebabkan oleh faktor-faktor yang berhubungan dengan kehidupan,” katanya.
Kolaborasi ini memerlukan analisis infrastruktur global dan ketahanan keuangan dengan fokus pada ketahanan keuangan dan relevansi peraturan sektoral di empat negara dengan tantangan infrastruktur yang beragam. Analisis ketahanan infrastruktur terhadap suhu ekstrem di kota-kota besar, seperti Delhi, memberikan wawasan lebih dalam tentang bagaimana perbaikan dan adaptasi infrastruktur bisa mengurangi dampak buruk perubahan iklim.
Untuk mencegah perubahan iklim, hibah telah tersedia di berbagai kota di seluruh dunia untuk mengatasi banjir, suhu ekstrem, dan bencana alam lainnya. Hibah tersebut tidak hanya digunakan untuk pembangunan fisik, namun juga pelatihan dan peningkatan kapasitas lokal dalam menghadapi tantangan besar ini.
“Kolaborasi penelitian perubahan iklim ini membutuhkan kecerdasan buatan (AI) dengan dana sebesar $15.000. AI ini kedepannya akan digunakan untuk sistem peringatan dini yang didukung oleh perencanaan yang signifikan. Kolaborasi ini tentu saja membutuhkan kemitraan dengan universitas berupa akses ke bagian yang relevan bagi para peneliti,” lanjutnya.
Meski begitu, Amit menuturkan terdapat sejumlah tantangan yang semakin kompleks. Infrastruktur yang masih ada di negara berkembang masih rentan terhadap bencana alam dan kerugian finansial yang sangat besar akibat bencana ini. Namun, dengan alur investasi yang tepat sasaran dan berbasis penelitian, ketahanan infrastruktur dapat meningkat secara signifikan.
“Misalnya, investasi infrastruktur India yang signifikan sebesar sekitar $1,5 triliun. Investasi ini meliputi penilaian risiko dalam investasi tenaga surya dengan perlunya peraturan bangunan yang kuat, standar infrastruktur, dan data mengenai dampak perubahan iklim,” tuturnya.
Terakhir, Amit menekankan pentingnya kolaborasi internasional dalam pembangunan infrastruktur yang semakin jelas berupa komitmen pendanaan dan keahlian dari Inggris, India, Australia dan Amerika Serikat agar memiliki landasan kuat bagi upaya pembangunan infrastruktur yang lebih kokoh.
“Program kolaboratif ini melibatkan banyak negara dan berfokus pada mitigasi bencana serta adaptasi terhadap perubahan iklim, dengan tujuan utama memperkuat ketahanan ekonomi global melalui infrastruktur yang lebih baik,” pungkasnya.
