Jakarta (India News Desk) — Perdana Menteri India Narendra Modi menyerukan langkah penghematan nasional di tengah gejolak ekonomi global akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Dalam pidatonya di Hyderabad, Modi meminta masyarakat India mengurangi konsumsi bahan bakar minyak, membatasi pengeluaran non-prioritas, hingga kembali menerapkan pola kerja dari rumah atau work from home (WFH) seperti saat pandemi Covid-19.
Seruan tersebut muncul ketika ketegangan di kawasan Teluk terus mengganggu rantai pasok dunia dan memicu lonjakan harga energi internasional. Krisis yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel disebut telah memberi dampak besar terhadap perdagangan global, terutama setelah terganggunya jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Dalam pidatonya, Modi menekankan bahwa patriotisme tidak hanya diwujudkan melalui pengorbanan di medan perang, tetapi juga melalui sikap bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
“Patriotisme bukan hanya soal kesediaan mengorbankan nyawa di perbatasan. Dalam situasi seperti sekarang, patriotisme berarti hidup secara bertanggung jawab dan menjalankan kewajiban kepada negara dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Modi.
Ia menilai masyarakat memiliki peran penting untuk membantu India menghadapi tekanan ekonomi global yang dipicu konflik internasional, kenaikan harga impor, dan gangguan distribusi energi.
WFH hingga Transportasi Umum Kembali Didorong
Sebagai bagian dari langkah penghematan nasional, Modi meminta masyarakat mulai mengurangi penggunaan kendaraan pribadi berbahan bakar minyak. Ia mendorong warga menggunakan transportasi umum seperti metro, melakukan car pooling, serta memanfaatkan kereta api untuk distribusi barang.
Pemerintah India juga kembali mengangkat pola efisiensi yang pernah diterapkan saat pandemi Covid-19. Modi menilai kebiasaan seperti rapat daring, konferensi virtual, dan bekerja dari rumah dapat membantu menekan konsumsi energi nasional.
“Pada masa Corona, kita menerapkan work from home, pertemuan daring, konferensi video, dan mengembangkan banyak sistem seperti itu,” kata Modi.
“Kita juga sudah terbiasa dengan itu.”
Menurutnya, langkah tersebut kini perlu kembali dijalankan sebagai bentuk kepentingan nasional.
“Sekarang adalah waktu yang tepat untuk memulai kembali kebiasaan itu karena hal tersebut akan menjadi kepentingan nasional,” lanjutnya.
Selain itu, Modi juga mengajak masyarakat mempercepat penggunaan kendaraan listrik sebagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Warga Diminta Tunda Liburan dan Pernikahan di Luar Negeri
Tidak hanya sektor energi, Modi juga menyoroti pentingnya menjaga cadangan devisa negara. Ia meminta masyarakat mengurangi perjalanan luar negeri yang tidak mendesak, termasuk menggelar pernikahan di luar negeri yang dinilai menguras devisa.
Pemerintah India bahkan meminta masyarakat menunda pembelian emas non-esensial selama satu tahun. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi tekanan terhadap impor dan menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah kenaikan harga global.
Modi juga mengajak masyarakat lebih memilih produk dalam negeri, mulai dari barang kebutuhan sehari-hari seperti tas, sepatu, hingga aksesori buatan lokal.
Di sektor pangan, ia meminta keluarga mengurangi konsumsi minyak goreng demi menghemat impor sekaligus meningkatkan kesehatan masyarakat.
“Bensin dan solar kini menjadi sangat mahal di seluruh dunia,” kata Modi.
“Sudah menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menghemat devisa yang digunakan membeli bensin dan solar dengan cara mengurangi konsumsinya,” tambahnya.
Petani Diminta Kurangi Pupuk Kimia
Dalam pidato yang sama, Modi turut menyoroti sektor pertanian sebagai bagian penting dari strategi penghematan nasional India. Ia meminta petani mengurangi penggunaan pupuk kimia hingga 50 persen dan mulai beralih ke praktik pertanian alami.
Selain itu, Modi juga mendorong penggunaan pompa irigasi tenaga surya untuk menggantikan pompa diesel di lahan pertanian.
“Kita harus mengurangi penggunaan pupuk kimia hingga setengahnya dan bergerak menuju pertanian alami,” ujar Modi.
“Dengan cara itu, kita dapat menghemat devisa sekaligus melindungi lahan pertanian dan bumi,” tambahnya.
Ajakan tersebut sekaligus menjadi bagian dari kampanye pemerintah India untuk memperkuat ketahanan ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global.
Selat Hormuz Jadi Titik Krisis Dunia
Situasi ekonomi global semakin tertekan setelah Selat Hormuz, jalur laut penting bagi distribusi minyak dunia, mengalami gangguan serius selama lebih dari dua bulan.
Konflik bermula setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari. Teheran kemudian membalas dengan meningkatkan tekanan di kawasan Teluk, termasuk terhadap lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut. Gangguan di kawasan itu membuat harga minyak melonjak taja m dan memicu kenaikan biaya impor berbagai negara, termasuk India.
Iran juga dikabarkan akan mengenakan pajak terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz. Sementara itu, Amerika Serikat menyatakan akan mencegat kapal yang membayar biaya tersebut kepada Teheran. Ketegangan itu membuat situasi semakin rumit dan memicu kekhawatiran dunia internasional.
Organisasi Maritim Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (IMO) menyebut sekitar 1.500 kapal beserta awaknya kini terjebak di kawasan Teluk akibat blokade Iran. Di sisi lain, sejumlah negara Barat seperti Inggris dan Prancis mulai membahas pembentukan koalisi internasional untuk mengamankan jalur pelayaran tersebut.
Author: Rafi Fadhilah
