NEW DELHI (India News Desk) — Di tengah padatnya jalanan New Delhi, Gurudwara Bangla Sahib berdiri mencolok dengan bangunan putih dan kubah emas yang berkilau di bawah sinar matahari. Dikelilingi lalu lintas, perkantoran, dan pasar, rumah ibadah umat Sikh ini terasa seperti jeda tenang di tengah ritme kota yang sibuk. Begitu melewati gerbangnya, kebisingan perlahan menghilang, digantikan lantunan doa dan suara air yang mengalir.
Gurudwara Bangla Sahib merupakan salah satu tempat ibadah Sikh terpenting di India. Tempat ini berkaitan erat dengan Guru Har Krishan, Guru Sikh kedelapan, yang pernah tinggal di sini pada abad ke tujuh belas dan membantu masyarakat saat wabah cacar dan kolera melanda kota.
Menutup Kepala, Membuka Hati

Sebelum memasuki kompleks utama, pengunjung diwajibkan menutup kepala dan melepas alas kaki. Bagi yang tidak membawa penutup kepala, kain tersedia di area masuk. Aturan ini terasa bukan sebagai pembatas, melainkan ajakan untuk melambat dan menunjukkan rasa hormat.
Di dalam, laki laki dan perempuan duduk bersama di lantai, mendengarkan kirtan, yaitu lantunan ayat ayat suci Sikh yang terus mengalir. Suasananya damai dan inklusif. Tidak ada keharusan untuk memahami setiap kata. Duduk diam saja sudah cukup memberi makna.
Sarovar yang Menenangkan
Di pusat kompleks terdapat sarovar, kolam air suci tempat para peziarah membasuh tangan atau berdoa di tepinya. Pantulan kubah emas di permukaan air menciptakan pemandangan yang sangat ikonik, terutama pada pagi atau sore hari.
Orang orang dari berbagai latar belakang duduk di lantai marmer, ada yang hening, ada yang berbincang pelan, ada pula yang sekadar memandangi riak air. Ruang ini memberi kesempatan untuk merenung tanpa tuntutan apa pun.
Langar dan Makna Kesetaraan

Salah satu pengalaman paling berkesan di Gurudwara Bangla Sahib adalah langar, dapur umum yang menyajikan makanan gratis setiap hari. Ribuan porsi makanan dibagikan kepada siapa pun yang datang, tanpa memandang agama, kewarganegaraan, atau status sosial.
Para pengunjung duduk berjejer di lantai dan disuguhi makanan vegetarian sederhana yang dimasak oleh para relawan. Hidangannya mungkin sederhana, tetapi pesannya kuat. Semua orang makan makanan yang sama, dalam posisi yang sama, sebagai simbol kesetaraan.
Tempat yang Membekas

Saat meninggalkan Gurudwara Bangla Sahib, suara kota perlahan kembali terasa. Namun ada sesuatu yang tertinggal. Kunjungan ini bukan sekadar melihat tempat ibadah, tetapi mengalami ketenangan, kedermawanan, dan rasa kemanusiaan yang dibagi bersama.
Bagi pelancong di Delhi, Gurudwara Bangla Sahib bukan hanya destinasi. Tempat ini adalah pengingat bahwa di tengah kekacauan kota besar, masih ada ruang yang dibangun atas dasar pelayanan dan welas asih, terbuka bagi siapa saja yang datang.
Author: Rafi Fadhilah
