Seiring dengan guncangnya pasar modal global dan terganggunya rezim perdagangan internasional, pemerintah-pemerintah di seluruh dunia tengah berebut untuk merespons dan bereaksi. Tiongkok telah lebih dulu merespons dengan mengumumkan tarif sebesar 34% terhadap semua barang AS yang diekspor ke pasar mereka. Negaranegara lain menyatakan akan mencoba bernegosiasi dengan pemerintahan Trump untuk mendapatkan kesepakatan yang lebih baik bagi diri mereka sendiri.
Di kawasan ASEAN, semua negara terdampak oleh tarif ini, dengan Indonesia menjadi salah satu yang paling terpukul karena tarif 34% dikenakan terhadap seluruh ekspor ke AS. Tarif yang diumumkan oleh Trump ini akan membawa dampak jangka panjang terhadap perekonomian dan perdagangan global. Rantai pasok yang telah dibangun selama empat hingga lima dekade akan dibongkar dan dibangun kembali. Hubungan perdagangan dan ekonomi baru akan muncul, dan pusat-pusat kekuatan baru akan terbentuk.
Tidak diragukan lagi bahwa kita sedang menyaksikan pergeseran besar dalam tatanan dunia. Seiring dengan pergeseran hubungan ekonomi, aliansi politik baru pun akan terbentuk. Seperti halnya setiap pergeseran besar lainnya, akan ada rasa sakit jangka pendek yang luar biasa, tetapi juga akan muncul peluang jangka panjang yang baru. Indonesia harus dengan cermat menilai perubahan ini, mengidentifikasi peluang baru, dan menyesuaikan kebijakan ekonomi serta perdagangannya secara strategis. Dengan rantai pasok global yang sedang mengalami pergeseran dan banyak negaramencari mitra dagang yang tangguh dan dapat diandalkan, Indonesia memiliki
kesempatan untuk memposisikan diri kembali sebagai pusat kompetitif di kawasan IndoPasifik. Tekanan eksternal ini justru dapat memicu inovasi, mendorong manufaktur bernilai tambah, memperdalam kemitraan regional, dan mendorong reformasi penting untuk meningkatkan kemandirian dan keberlanjutan ekonomi jangka panjang.
Peluang Potensial bagi Indonesia
Meskipun tantangan langsung dari kenaikan tarif AS sangat nyata, Indonesia memiliki peluang unik untuk membentuk ulang arah ekonominya. Alih-alih bergantung pada sedikit pasar ekspor utama, saat ini adalah waktu yang tepat bagi negara ini untuk menjelajahi cakrawala baru dalam perdagangan, investasi, dan inovasi. Dengan memanfaatkan lokasi strategis, sumber daya yang melimpah, dan kemitraan regional yang berkembang, Indonesia dapat mendiversifikasi basis ekspornya, menarik investasi baru, dan naik ke rantai nilai dalam jaringan produksi global. Pergeseran ini tidak hanya menjanjikan pengurangan kerentanan terhadap guncangan eksternal, tetapi juga membuka jalan menuju pertumbuhan yang lebih berkelanjutan, inklusif, dan berbasis inovasi. Kuncinya adalah mengubah tekanan jangka pendek menjadi pijakan strategis jangka panjang.
1. Diversifikasi Pasar Ekspor:
Indonesia dapat mengurangi ketergantungannya pada AS dengan memperkuat hubungan dagang dengan kawasan lain seperti Uni Eropa, sesama negara ASEAN, Timur Tengah, dan negara berkembang di Afrika serta Amerika Latin. Kementerian Perdagangan telah aktif mencari pasar ekspor baru, namun kini harus mempercepat upayanya.
2. Penguatan Industri Dalam Negeri:
Dengan berinvestasi dalam peningkatan kapasitas manufaktur lokal, Indonesia dapat meningkatkan daya saing global dan membuka saluran ekspor baru. Selama dekade terakhir, pemerintah telah banyak berinvestasi dalam infrastruktur fisik yang telah meningkatkan konektivitas secara signifikan.
3. Pengembangan Produk Bernilai Tambah:
Naik ke rantai nilai—dari bahan mentah ke barang jadi—dapat meningkatkan profitabilitas dan mengurangi kerentanan terhadap guncangan eksternal. Untuk mencapainya, baik pemerintah maupun sektor swasta perlu berinvestasi dalam R&D dan inovasi. Saat ini, investasi dalam R&D masih kurang dari 0,1% dari PDB.
4. Pemanfaatan Perjanjian Dagang:
Indonesia dapat memanfaatkan perjanjian dagang yang ada seperti RCEP dan mengeksplorasi perjanjian baru untuk memperoleh akses pasar yang lebih baik.
5. Menarik Investasi Asing:
Dengan banyak perusahaan global yang ingin mendiversifikasi rantai pasoknya, Indonesia bisa menjadi basis produksi alternatif, terutama bagi perusahaan yang ingin menghindari tarif negara lain.
6. Promosi Sektor Jasa Melalui Pengembangan SDM:
Ini adalah waktu yang tepat bagi Indonesia untuk mengembangkan sektor jasa guna mengimbangi dampak penurunan ekspor. Meskipun manufaktur tetap menjadi sektor kunci dalam pertumbuhan PDB, sektor jasa juga harus didorong melalui pelatihan dan pengembangan talenta.
Peluang Realignment Global
Untuk mengurangi dampak tarif baru dari AS, Indonesia harus mengadopsi strategi perdagangan yang berpandangan jauh ke depan dan menekankan pada diversifikasi kemitraan ekonomi. Memperkuat hubungan dagang dan investasi dengan lebih banyak negara dan kawasan tidak hanya akan mengurangi ketergantungan pada satu pasar saja, tetapi juga membuka jalan baru bagi pertumbuhan, inovasi, dan ketahanan ekonomi. Dengan terlibat secara proaktif dengan negara berkembang, sekutu regional, dan mitra strategis, Indonesia dapat menjaga sektor ekspornya, menarik investasi baru, dan meningkatkan daya saing perdagangan globalnya.
Negara dan Kawasan Potensial:
Tiongkok
– Alasan: Mitra dagang terbesar Indonesia dan pasar konsumen yang
sangat besar.
– Peluang: Ekspor komoditas, minyak sawit, mineral, perikanan, serta
kolaborasi teknologi melalui Belt and Road Initiative.
India
– Alasan: Ekonomi yang tumbuh cepat dengan permintaan tinggi untuk
batubara, minyak sawit, karet, dan barang konsumsi.
– Peluang: Kerja sama strategis Indo-Pasifik, teknologi, farmasi, dan sektor
energi.
Uni Eropa (EU)
– Alasan: Daya beli tinggi dan ketertarikan terhadap produk berkelanjutan.
– Peluang: Dorong penyelesaian Indonesia-EU CEPA untuk akses pasar preferensial.
Jepang dan Korea Selatan
– Alasan: Basis industri kuat dan perjanjian dagang yang sudah ada (IJEPA
dan IK-CEPA).
– Peluang: Ekspor komponen otomotif, tekstil, makanan laut, dan
elektronik.
Negara Tetangga ASEAN (Vietnam, Thailand, Filipina, Malaysia)
– Alasan: Integrasi regional melalui RCEP dan Komunitas Ekonomi ASEAN.
– Peluang: Memperkuat rantai pasok dan menciptakan pusat produksi
regional.
Timur Tengah (UEA, Arab Saudi, Qatar)
– Alasan: Permintaan tinggi terhadap produk halal, investasi ketahanan
pangan, dan bahan konstruksi.
– Peluang: Manfaatkan Indonesia-UEA CEPA dan bangun kemitraan
ekonomi Islam.
Afrika (Nigeria, Kenya, Afrika Selatan, Mesir)
– Alasan: Pasar berkembang yang belum tergarap dengan konsumsi yang
meningkat.
– Peluang: Ekspor barang konsumsi terjangkau, layanan digital, dan
teknologi pertanian.
Risiko Strategis & Ekonomi bagi Indonesia
Pengurangan perdagangan dengan AS membawa beberapa risiko strategis dan ekonomi bagi Indonesia, mengingat kedalaman hubungan bilateral yang ada. AS adalah salah satu tujuan ekspor utama bagi produk-produk Indonesia, terutama sektor padat karya seperti tekstil, karet, dan alas kaki. Selain itu, AS juga merupakan sumber utama investasi asing langsung, kolaborasi teknologi, dan pertukaran pendidikan tinggi.
Risiko Utama:
1. Kehilangan Pasar Bernilai Tinggi
Dampak: Kelebihan inventaris, PHK massal, penurunan pendapatan.
2. Perlambatan Investasi Asing
Dampak: Penurunan arus FDI, terutama di manufaktur dan ekonomi digital.
3. Risiko Reputasi dan Geopolitik
Dampak: Persepsi condong ke Tiongkok, mengurangi fleksibilitas diplomatik.
4. Akses Terbatas terhadap Inovasi & Teknologi
Dampak: Perlambatan pertumbuhan sektor teknologi dan keterampilan.
5. Volatilitas Kurs dan Neraca Perdagangan
Dampak: Defisit perdagangan jika pasar alternatif tidak menyerap ekspor secara cepat.
6. PHK di Sektor Ekspor-Oriented
Dampak: Ketegangan sosial jika solusi pasar baru tidak segera tersedia.
Strategi Respons Indonesia terhadap Tarif Baru AS
1. Diplomasi
• Negosiasi Bilateral dengan AS untuk sektor tertentu.
• Gunakan forum ASEAN dan G20 untuk menekan kebijakan proteksionis.
2. Langkah Hukum & Kebijakan
• Pertimbangkan mekanisme penyelesaian sengketa di WTO.
• Tinjau kebijakan tarif timbal balik dengan hati-hati.
3. Diversifikasi Ekonomi & Perluasan Pasar
• Percepat perjanjian dagang seperti IEU-CEPA dan optimalkan RCEP.
• Berikan insentif untuk ekspansi ke pasar non-tradisional.
4. Dukungan untuk Sektor Terdampak
• Subsidi & bantuan keuangan sementara.
• Pelatihan ulang tenaga kerja ke sektor pertumbuhan baru.
5. Dorongan Investasi & Inovasi
• Reformasi regulasi, transformasi digital manufaktur.
• Arahkan FDI dari negara non-AS.
6. Strategi Komunikasi Publik
• Transparansi dalam kebijakan untuk menjaga kepercayaan publik dan investor.
Langkah Selanjutnya
Indonesia kini berada di titik kritis—menghadapi risiko nyata sekaligus peluang strategis. Meskipun tarif AS mengancam sektor ekspor dan mengubah dinamika perdagangan global, tantangan ini justru menjadi panggilan untuk bertindak: mendiversifikasi mitra dagang, memperkuat daya saing domestik, dan membangun ketahanan ekonomi jangka panjang. Dengan strategi terpadu dan reformasi berkelanjutan, Indonesia dapat mengubah disrupsi ini menjadi momen kebangkitan ekonomi nasional.
